Hotel Tertua di Salatiga

Kota Salatiga yg dahulunya ialah basis militer pasukan Orang Belanda, memiliki wilayah-wilayah khusus yg sekedar by dihuni orang- orang Eropa. Salah satunya ialah Jl. Toentang (saat iniJl. Diponegoro), kawasan elite dgn rumah-rumah berhalaman luas. Ada satu-dua penduduk asli pribumi yg berwahanatinggal di daerah ini, namun bukan penduduk asli pribumi sembarangan. Biasanya ialah sosok yg memiliki jabatan tinggi di pemerintahan, konglomerat, atau kaum ningrat.

Posisi Salatiga yg strategis buat pertahanan militer by sebab terletak di tengah antara Semarang-Surakarta, membuat kota kecil itu kerap sering mendapatkan kunjungan para petinggi pemerintahan kolonial Orang Belanda. Baik petinggi sipil maupun militer berkunjung silih berganti ke kota kecil berudara adem itu. Konsekuensinya, sbg tuan rumah sering kelabakan menyiapkan segala sesuatunya.

Agak sulit menelusuri eksistensi hotel di kota pertama kalinya yg ada di Salatiga. Sebab, catatan yg ada tidak mampu secara detail menyebut tahun pembangunannya. Namun, berdasarkan keterangan Eddy Supangkat dalam buku berjudul Salatiga Sketsa Kota Lama disebutkan bahwa Hotel di kota Kalitaman dibangun by Pierre de le Brethoniere Hamar, personal saudagar kopi. Ia merogoh kantongnya sampai 100 ribu gulden guna mendirikan hotel di kota yg mewah.

hotel kalitaman di salatiga tempo dulu

Kenapa orang kaya itu susah payah mengeluarkan ratusan ribu gulden buat membangun sarana penginapan? Ternyata, di kira-kira 1837 terdengar kabar bahwa Pangeran Henry William Frederick, yakni putra Raja William II mau mengunjungi Salatiga. Terkait hal itu, pemerintahan kolonial Orang Belanda merasa perlu menyiapkan sebuah hotel di kota yg representatif. Kawasan Jl. Pemuda sendiri, saat itu dikenal sbg daerah permukiman orang Eropa atau (Europesche Wijk), memiliki posisi yg sangat strategis, yaitu sekedar 100 meter dr rumah dinas wali kota sertatepat berada di jantung kota. Pada saat cuaca cerah, mata langsung bisa melihat indahnya Gunung Merbabu. Jadi, wahanayg tepat bagi orang-orang bule menginap.

Tidak ada catatan resmi sejak kapan Hotel di kota Kalitaman dimulai pembangunannya. Yg pasti saat itu, arsitektur dunia tengah didominasi gaya De Indische Enpire Stijl. Penggunaan pilar besar kerap dimanfaatkan by arsitek sertadi Indonesia, yg memopulerkannya ialah Gubernur Jendral Herman William Daendels di kira-kira 1808-1811. Setelah makan waktu bertahun-tahun, akhirnya di kira-kira 1900-an Hotel di kota Kalitaman sudah beroperasi. Setiap menjelang akhir pekan, banyak bule berberkunjungan ke Salatiga buat sekadar memanfaatkan liburannya sembari menikmati hawa adem.

Begitu megahnya hotel di kota ini hingga orang penduduk asli pribumi sangat diharamkan memasuki wilayah hotel di kota. Konon, terdapat papan pengumuman yg berbunyi Verboden voor honden en inlanders (anjing sertapenduduk asli pribumi dilarang masuk). Duh! Bangsa kita disetarakan dgn binatang. Jadi, ketika noni-noni Orang Belanda bersama pasangannya tengah menikmati udara pagi di serambi hotel di kota atau pada malam hari lagi menggelar dansa, kaum penduduk asli pribumi sekedar bisa mengintip dr jarak kira-kira 100 meteran. Eksistensi orang-orang berkulit cokelat cenderung menghitam akibat sengatan matahari, sangat-sangat sangat diharamkan mendekat-dekat.

Dalam perkembangannya, nama Kalitaman sempat diganti menjadi Grand Hotel di kota sertaterakhir diubah lagi dgn nama Hotel di kota Kaloka. Menempati lahan kira-kira 1 hektar, dalam ingatan penulis, bentuk hotel di kota terdiri atas satu bangunan besar yg berfungsi sbg lobi, ruang resepsionis, ruang pertemuan sekaligus restoran. Sementara samping dijadikan taman, samping kiri serta belakang ialah bangunan kamar-kamar membentuk huruf L. Hingga akhirnya Orang Belanda hengkang dr Republik ini, Hotel di kota Kaloka diambil alih by pemerintah Propinsi Jateng.

Fungsinya dijadikan wahana pendidikan sertalatihan aparatur pemerintah sertadiberi nama Sasana Widya Praja. Banyak cerita seram yg terjadi di wahanaini, minimnya lampu penerangan (waktu itu listrik masih bertegangan 110), sampai-sampai kesan remang-remang mendominasi kamar-kamar yg ada. Entah bagaimana ceritanya, memasuki tahun 2000-an, lahan Hotel di kota Kaloka berada dibawah kepemilikan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jateng atau saat ini jadi Bank Jateng. Wilayah seluas 10.000 meter itu, tahun 2007 mau dibeli pemerintah kota (Pemkot) Salatiga, harganya Rp 11-12 miliar. Namun, oleh karena Bank Jateng juga mau tetap berkantor di sini, akhirnya sekedar dua pertiga lahan yg dilepas.

kondisi_hotel sebagian jadi kantor bank

Tindak lanjut perpindahan aset ini, seluruh bangunan kamar-kamar yg membentuk huruf L diratakan sertadiubah menjadi bangunan perkantoran. Sementara, buat samping kanan yg dahulunya taman dibeli by orang terkaya di Salatiga serta dibangun jadi rumah toko (ruko). Selain itu gedung induk tetap difungsikan sbg kantor Bank Jateng. Jumat (20/1) siang, ketika penulis bertandang ke hotel di kota pertama di Salatiga ini, yg tersisa sekedar bangunan utamanya.

Kanan-kiri sudah diubah menjadi gedung yg repesentatif. Saat tengah mengambil gambar itulah, personal petugas keamanan Bank Jateng sempat menghampiri. Dgn nada sopan, ia menanyakan kepentingan penulis. Maklum, penulis sekedar mengenakan celana pendek dibalut jaket lusuh,menjadiwajar kalau dicurigai. Setelah penulis jelaskan, dirinya langsung mempersilakan. Itulah sedikit penelusuran tentang hotel di kota termewah sekaligus termegah yg ada di Kota Salatiga pada zaman pemerintahan kolonial Orang Belanda. Setelah satu abad lewat, akhirnya hunian para bule itu lenyap tergerus jaman, tinggal tersisa satu bangunan induk yg kendati sudah mengalami renovasi, tak mengubah bentuk aslinya.

Anda bisa juga baca info tentang hotel murah di Bandung di RHM.